Minggu, 13 September 2015

13th September

Ia adalah seorang wanita tangguh dan perkasa. Pekerja keras dan memiliki tawa yang riang. 
Ia, yang hari ini, 23 tahun lalu, mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan seorang anak. 
Seorang anak perempuan yang ia wariskan kecantikannya. Kata Bapak.
Seorang anak perempuan yang hingga kini belum bisa berbuat apa-apa untuknya, namun selalu ia banggakan.
Seorang anak perempuan yang kadang memperlakukannya kurang baik. 
Seorang anak perempuan yang meski sering membangkang, masih ia kasihi.


Mak...
Untuk membuatku merasakan indahnya dunia, Terima kasih :')
Aku akan berusaha untuk menjadi anak yang lebih baik lagi.

*Melalui tiap sujud dan tatapan penuh kasih dari balik punggungnya, ucapan terima kasih ini aku haturkan*

Sabtu, 23 Mei 2015

I'm A bad girl



Hey, apa kabar kau?
Izinkan aku membalas selipanmu disini.

Terharu. Adalah hal pertama yang aku rasakan saat membacanya.
Menjadikan aku sebagai pilihan rasamu sungguh kehormatan bagiku, hey kau.
Andai rasa bisa kuperintah untuk memilih kepada siapa ia jatuh, mungkin akan lebih baik.
Rasaku milik Tuhanku, aku tak tahu kapan Dia akan membuatnya menuju padamu.
Aku tak mungkin memintamu menunggu saat aku masih ragu untuk datang.
Jadi, bolehkah aku mengajukan permintaan yang –aku tahu- egois? Mungkin kejam.
Jangan mencintaiku.
Aku tahu –dengan jelas- aku tak punya hak untuk melarangmu. Katakan saja aku perempuan jahat. Tapi kau tahu? Kau berhak bahagia. Karena aku kenal rasanya mencinta sendirian. 
Itu saja.



PS : Aku menyimpannya dengan sangat indah. Kelak akan kukeluarkan jika ada anak kecil bertanya bagaimana rupa cinta yang tulus.

Untukmu,
 lelaki yang menyebut dirinya pemalu dan pengecut.
Terima kasih telah menjadi berani dan jujur.
Maafkan pula kebodohanku.


Minggu, 07 Desember 2014

Tentang Menunggu-mu


Menunggu I :
Masih tertanam jelas diingatanku,
dengan teh manis yang tinggal separuh, 
dengan cerita yang tak habis kubaca,
pada sore yang abu-abu hari itu,
pada bising yang mengganggu,
dan pada tiga kursi kosong yang menemaniku menunggumu.
Aku pergi.

Menunggu II :
Masih disini.
Phoenam, tak akan hilang nama itu dariku.
Hanya seperti kemarin.
Teh manis. Buku. Penghuni hati yang berpesta.
Dan seperti menunggu kemarin pun,
aku pergi.
Tapi kali ini bersama hujan.
Dari langit dan dari mataku.

Menunggu III :
Aroma tanah basah sisa guyuran hujan kemarin.
Matahari yang bersinar lembut.
Riak tenang air danau.

19 putaran, 371 langkah.
Kau datang.
Aku bahagia. 
Aku yakin merasa bahagia. 
Tapi di dalam hatiku,
Sesuatu mendesak, memaksa untuk keluar.
Lelah membendung, kubiarkan ia keluar mengalir.
Di dalam hati.

 Namun,
Seperti sebelum-sebelumnya, menunggumu selalu menyenangkan.
Aku suka saat ada ratusan kupu-kupu berterbangan didalam perutku.
Aku suka gemuruh didadaku.
Aku suka menunggumu. Selalu.
Tapi aku harus berhenti.
Because you asked me to.
:')