Senin, 05 Juli 2010

bidadari terakhir

Terik matahari tak segan-segan menghujam seantero bumi. Suara bising yang berasal dari mesin seperti akan memecahkan gendang telinga, menusuk-nusuk hingga naik ke ubun-ubun. Peluh sebesar biji jagung perlahan menuruni wajah Lutfi. Samar-samar bau tak sedap menyergap hidungnya. Dia ingin segera turun dari bis pengap itu. Tubuh Lutfi terhuyung karena supir bis itu menginjak rem. Lutfi menengok keluar jendela. Seorang nenek yang hampir renta perlahan menaiki tangga bis. Semua orang yang ada di bis itu hanya menonton nenek yang sedang berusaha naik itu, tak seorangpun berniat menolongnya. Setelah berhasil naik, nenek itu mengedarkan pandangannya mencari tempat yang bisa ia duduki namun mata yang mulai rabun itu tak menemukannya. Lutfi hendak beranjak dari kursinya berniat untuk memberikan nenek itu tempat duduknya tapi tiba-tiba seorang cewek yang tepat berada di samping nenek itu, berdiri kemudian dengan lembut dan senyuman dia menuntunnyauntuk duduk di tempat yang semula dia duduki. Lutfi menatap kagum cewek itu. Di zaman sekarang ini sangat jarang ditemukan orang yang mau berbagi dan menolong sesamanya, semua tentang diri mereka sendiri. Apalagi dia seorang ‘cewek’. Makhluk Tuhan satu ini di zaman sekarang menjunjung tinggi yang namanya “gengsi”. Lutfi masih memperhatikan cewek itu yang kini sedang berdiri berpegangan pada tiang bis. Dari belakang Lutfi mengamati cewek itu. Rambutnya yang hitam, lurus, dan panjang ia biarkan terurai. Saat cewek itu berbalik ke belakang, dia mendapati Lutfi sedang menatapnya. Lutfi jadi salah tingkah dia merasakan darahnya mengalir lebih cepat dari biasanya dan jantungnya melantunkan musik milik DJ Sammy, hal itu membuat cewek itu menyunggingkan senyumnya. Bersinar. Dilihat dari fisik dia seperti cewek yang lemah namun senyumnya membuat dia terlihat kuat.

Beberapa menit kemudian, bis yang Lutfi tumpangi berhenti di Bus Stop. Hal itu mebuyarkan lamunan Lutfi. Dilihatnya cewek yang sempat mengisi pikirannya itu sedang melangkah menuju pintu bis untuk turun. Mata Lutfi mengikuti cewek itu berjalan di trotoar hingga bis pun berlalu. Ada rasa yang terlintas dihati Lutfi yang dia sendiri tidak bisa menafsirkan perasaan itu. Tapi bersama angin yang menghempas tubuhnya yang dipenuhi peluh, perasaan itu terbawa bersamanya.

***

Dikamar berukuran 5x6 m, terdapat 1 pasang meja belajar yang diatasnya tergelatk buku-buku yang dibiarkan berserakan, di salah satu sudut kamar terdapat sebuah gitar yang menjadi teman setia pemiliknya, di sudut lainnya ada sebuah lemari pakaian, di seluruh dinding kamar itu tertempel poster band-band luar, dan sebuah tempat tidur mungil yang saat ini diatasnya Lutfi sedang membolak-balikkan tubuhnya, dia tampak gelisah. Dia melirik jam bekernya yang menunjukkan pukul 03.00.

“Shit! Kenapa dia nggak bisa ilang dari pikiran gw sih!” ucapnya sedikit kesal. Cewek yang di bus siang tadi saat ini memenuhi otak Lutfi membuatnya tak bisa tidur. Dia tidak sabar lagi agar bulan segera tergantikan oleh matahari. Dia ingin melihat senyum tulus dari cewek itu. Setelah cukup lama, mata Lutfi perlahan terpejam dan akhirnya memasuki gerbang mimpi.

***

Dia berlari kecil meninggalkan kampusnya menuju Halte Bis karena dia tidak mau ketinggalan bis. Dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal Lutfi melirik jam yang melingkar ditangan kirinya. Jarum jam itu menunjukkan pukul 12.45

“seharusnya sih belum terlambat”

Dia mengalihkan pandangannya ke jalan dan dari kejauhan tampak bis yang kemarin dia tumpangi. Saat bis itu berhenti, Lutfi mengangkat kakinya menaiki tangga dengan suatu harapan. Dan harapan itu sepertinya terkabul. Saat telah berada di dalam bis itu, Lutfi mendapati cewek itu sedang duduk di tempat yang sama dengan kemarin. Lutfi tersenyum kecil saat cewek itu melihatnya dan melempar senyuman. Lutfi segera mencari tempat duduk kosong di barisan paling belakang. Dari tempat itu dia bisa memperhatikan cewek itu tanpa diketahui olehnya.

Begitulah seterusnya, Lutfi terus memperhatikan cewek itu dari tempat duduk paling belakang. Dan setiap hari itu pun dia terus menemukan 1 kebaikan yang cewek itu lakukan. Suatu hari, dengan hati yang penuh kagum Lutfi menyaksikan cewek yang sampai sekarang ia belum tahu namanya sedang menggendong bayi, menghiburnya, menyanyikan sebuah lagu yang bayi suka. Lutfi melihatnya seperti sedang melihat seorang malaikat, ketulusan yang terpancar dari wajahnya, keikhlasan yang terpampang di senyum indahnya. Semua gerakannya, wajahnya, senyumnya adalah sebuah seni yang tak ternilai harganya. Bagi Lutfi cewek itu lebih memiliki makna tersirat yang indah di banding dengan lukisan Monalisa kebanggaan orang Paris.

“sungguh bidadari terakhir yang telah di utus Tuhan” batin Lutfi.

Dari hari ke hari, minggu ke minggu, hingga bulan-bulan berlalu Lutfi terus memperhatikan, mengamati dan menikmati tiap kebaikannya. Dan sampai saat ini pun dia belum pernah menghampirinya walau hanya sekedar menyapa. Lutfi tetap memperhatikan di tempat duduk belakang. Dan makin hari pula kekaguman terus tumbuh dihatinya. Tapi Lutfi tidak menyadari kalau makin hari pula wajah cewek itu bertambah pucat dan makin lemah. Hingga suatu hari, ketika Lutfi menaiki tangga bis itu, dan melihat ke tempat biasa cewek itu duduk, dia tidak mendapatinya berada disitu. Tapi Lutfi tetap duduk di belakang dan terus menatap kursi kosong yang biasanya cewek itu berada. 3 hari telah berlalu dan lutfi tetap tidak mendapati cewek itu. Akhirnya rasa penasaran yang selama beberapa hari ini dia pendam memberanikannya untuk bertanya ke supir bis itu.

“maaf pak, cewek yang selalu duduk di kursi itu, kok nggak keliatan lagi?” Lutfi menunjuk pada kursi yang dekat dengan pintu bis.

“oh, Mbak Lucia… dengar-dengar sih, katanya dia sudah meninggal beberapa hari yang lalu…” Lutfi tersentak mendengar jawaban supir bis itu.

“Meninggal…?” tanyanya lagi sedikit tidak percaya. “kenapa bisa meninggal?” sambungnya.

“katanya sih sakit…” supir bis itu terlihat berpikir. “lio… leo… leukimia! Iya, Leukimia. Kasihan banget mbak Lucia, dia orang yang baek cantik pula, kenapa cepat-cepat dipanggil sama Tuhan…?” tukas supir bis itu. “katanya orang baek memang selalu cepat-cepat dipanggil supaya tidak berbuat yang jahat nantinya..”

Lutfi masih tetap dalam diam. Dia shock. Tidak percaya.

“ya… yang baik memang selalu lebih dulu dijemput oleh-Nya” batin Lutfi. “tapi kenapa harus dia? Apa masih ada orang seperti dia di dunia ini? Aku tak yakin.” Lutfi hanya bisa mengikhlaskan kepergian Lucia. Selamat jalan Bidadari terakhirku.

END

Selasa, 15 Desember 2009

THE L@ST MESSAGE


PART 1

Harry sangat bahagia menerima surat dari Cherry sang kekasih hati. Surat itu adalah yang pertama Cherry berikan setelah beberapa tahun di luar negeri untuk melanjutkan studinya, meninggalkan rasa kekecewaan dan kesedihan untuk Harry. Namun Harry tak tahu bahwa surat pertama itu akan menjadi surat yang terakhir untuknya…
***
"Harry….!! Ada surat untukmu!" panggil mama Harry setelah menerima surat dari tukang pos. Harry tak menghiraukan panggilan itu, mungkin dia pikir surat itu tak penting-penting amat.
"dari Cherry!!" mamanya kembali teriak. Mendengar nama yang sudah tak asing baginya disebutkan, Harry yang seharian mengurung diri dikamar sontak berlari keluar menghampiri mamanya dengan perasaan yang berbunga-bunga.
"suratnya mana ma?" tanya Harry setelah tiba dihadapan mamanya.
"ada di atas meja..." tanpa pikir panjang Harry menuju meja. Setelah surat itu berada di genggamannya, jantungnya berdegup dia membayangkan kata-kata rindu yang tertulis indah di dalam surat itu. Di sudut bawah amplop surat berwarna merah muda itu tertulis ’from Cherry’. Harry tersenyum menyebutkan nama yang tertera di surat itu. Perlahan dia membuka surat itu kemudian membacanya dengan lembut.
Dear Harry...
tinggal disini sangat menyenangkan namun tak semenyenangkan jikalau kau
ada disini bersamaku.
Walaupun raga ini disini namun hatiku tetap dan akan selalu ada padamu.
Aku rindu kamu Harry...
Kerinduan yang lama terpendam inilah yang membawaku untuk kembali padamu
Besok aku akan datang untukmu...
Tunggu aku di taman
Bawakan aku seikat mawar merah muda
Dan ingat
Jangan pergi sebelum aku datang...
with Lov3,
Cherry…
Senyum mengembang di wajahnya.
"aku akan menunggumu Cherry, membawakanmu mawar yang kamu inginkan. Aku tidak akan pulang sebelum aku bisa memeluk tubuhmu… tidak akan." Janji Harry pada dirinya sendiri.
***
15.30
Dengan pakaian yang rapi Harry siap untuk ke taman tempat pertemuan yang diminta Cherry. Seikat mawar merah muda digenggamnya. Harry berangkat dengan perasaan yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Tak cukup 10 menit, Harry sudah tiba di taman. Dia memilih untuk menunggu Cherry di jembatan yang terletak di tengah taman. Dia sudah membayangkan saat-saat pertemuan antara mereka setelah bertahun-tahun tak bertatap muka, bahagia dan mengharukan pastinya.
16.30
Sudah sejam Harry menunggu namun Cherry belum juga tampak batang hidungnya. Walaupun begitu senyum Harry tak pernah hilang dari wajahnya.
18.00
Taman mulai menyepi, mawar yang digenggamnya juga mulai layu, senjapun kini menyelimuti langit yang tadinya biru tapi Cherry belum juga datang. Harry mulai khawatir namun dengan sabar dia tetap menunggu, menunggu, dan menunggu.
***
"berita terkini, pesawat tujuan Australia-indonesia mengalami kecelakaan, pesawat tersebut meledak diudara, belum diketahui pasti penyebab kecelakaan tersebut namun dapat dipastikan penumpang tidak ada yang selamat...." berita kali ini membuat mama Harry shock.
"ya Tuhan... Cherry!!" mama Harry terisak. Dia sangat sayang pada Cherry, mereka sangat dekat karena hampir setiap hari sebelum Cherry pindah, Cherry selalu datang ke rumah Harry membantu mama Harry di dapur ataupun menemaninya belanja.
"ini tidak mungkin terjadi...! Harry..." ia langsung teringat oleh Harry kemudian berusaha menghubunginya namun handphone Harry tak bisa dihubungi, mama Harry mulai panik.
***
Tanpa menghilangkan senyum di wajahnya, Harry menengok jam yang melingkar di tangannya.
pukul 20.00 itulah yang ditunjukkan jam tangannya saat itu dan Harry masih tak beranjak dari taman. Harrypun terus menunggu Cherry, dia tidak tahu kalau Cherry yang sangat dia sayangi dan kasihi telah menghadap Sang Pencipta. Mendung menyelimuti langit malam itu, bintang-bintang tak berkelipan, bulanpun tak memancarkan cahayanya, mungkin mereka ikut bersedih atas kematian seorang gadis yang manis dan baik hati. Beberapa menit kemudian titik-titik air mulai turun dari langit dan semakin lebat. Harry segera mencari perlindungan. Udara semakin dingin menusuk hingga ke tulang-tulang Harry namun Harry enggan untuk meninggalkan taman.
"Cherry... kamu dimana?" batinnya.
Dan akhirnya Harry memutuskan untuk pulang tapi akan menunggunya lagi besok.
Setelah sampai dirumah, dia menemukan mamanya sedang menangis di depan TV.
"ma... mama kenapa?" tanyanya lembut sembari duduk di samping mamanya. Tak ada jawaban dari mamanya, Harrypun mencoba melihat apa yang sedang ditonton mamanya yang membuat mamanya terisak. Setelah beberapa menit menyimak, mata Harry membelalak dia langsung down.

"nggak mungkin! Ini semua bohong! Nggak mungkin Cherry.... nggak! Berita ini salah!!" Harry tidak bisa terima Cherry meninggal.
"Harry... berita ini nggak salah, kamu harus bisa terima ini semua sayang..."
"NGGAK!!" teriaknya kemudian masuk ke kamarnya.
***
Bayangan tentang kenangan-kenangan manis yang telah Harry lalui bersama Cherry terus terlintas dipikirannya. Dadanya sesak seakan kehilangan separuh dari jiwanya, hatinya menangis. Kini Jam menunjukkan pukul 15.30, Harry segera bersiap untuk berangkat ke taman.
"aku tidak percaya dengan semua berita itu, aku yakin kamu akan datang menemuiku Cherry... aku sudah berjanji akan terus menunggumu sampai aku bisa memelukmu, sampai aku bisa melihat senyum manismu dan akan aku lakukan itu...!"
Dan begitulah seterusnya, setiap hari Harry terus menunggu Cherry di taman, membawa seikat mawar merah muda yang segar dan wangi seperti yang diminta Cherry. Dengan senyum yang terus terpampang diwajahnya –tapi senyuman itu merupakan tangisan hati Harry- Harry dengan sabar menunggu kedatangan Cherry sang pujaan hati walaupun itu hanyalah impian yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

To be continue...



By
NURUL MY

...ALONE...



MATAHARI SEAKAN TAK BERPIHAK PADAKU
TAK PERNAH TERSENTUH SINARNYA
KU SELALU DALAM GELAP
PELANGI PUN TAK MENYERTAIKU
HARI-HARI KELABU.
TANPA WARNA.
HITAM DAN PUTIH. HANYA ITU.
MEREKA DISEKELILINGKU
TERTAWA SENDIRI.
MENANGIS SENDIRI.
BAGAI DI DUNIA YANG BERBEDA
TERBATASI OLEH RUANG DAN WAKTU
BAHAGIAKU ADALAH BAHAGIAKU
SEDIHKU PUN ADALAH SEDIHKU
SEDIKITPUN MATAHARI ENGGAN MENYINARIKU
ENGGAN MENGANGKATKU DARI GULITA
PELANGI, TAK PERNAHKAH TERPIKIR OLEHMU
MEMBERI SEDIKIT WARNA UNTUK HIDUPKU
HIDUPKU YANG KELAM. WALAU SEDIKIT??



...NURUL MY...