Selasa, 22 April 2014

Katanya Aku


Ini tentang seorang lelaki. Lelaki dari kotak masa lalu yang masih, bahkan terlalu sering kubuka. Lelaki yang sangat hebat itu mengatakan diriku penganut kapitalisme dan hedonisme. Lucu bukan? Dia bahkan belum sebulan mengenalku dan dia sudah menjudge diriku penganut istilah yang aku sendiri kurang mengerti maknanya. Katanya, idealogi kami berbeda. Urusan perasaan, pentingkah masalah persamaan atau perbedaan idealogi? Kita bukan mau membangun negara bukan?
Akh sudahlah. Mungkin hal itu memang lebih penting buatmu.

Aku menyayangimu tapi harus melupakanmu.

Selasa, 14 Januari 2014

Musim

Hujan pertama menyentuh bumi Oktober lalu. Membuat langit seketika menyendu namun tak kelam. Tentu saja. Hujan tak pernah membawa celaka. Hujan adalah limpahan berkah dari Atas. Tiap tetesnya menghidupi berbagai macam tumbuhan dan makhluk yang disiraminya. Musim berhujan telah tiba. Aku sangat suka hujan.

Tapi tahukah? Hujan tak pernah datang sendirian. Entah bagaimana cara. Selalu ada rindu yang membuntutinya. Rindu yang hadir lalu menyapa. Dengan anggun. Tanpa tahu, yang ia kunjungi sedang merana meladeninya. Akh kadang rindu itu kejam. Atau haruskah aku salahkan hujan atas rindu ini? Aku rasa tidak. Ia tak berdosa atas rindu yang datang.

Perlukah aku menyebut musim ini 'musim rindu'? Karena aku tak menghiraukan lagi hujan di luar saat rindu mengacak-acak ruang di hatiku.
Ini musim hujan atau musim rindu?

Atau begini saja, Musim hujan sama dengan musim rindu. Setuju?


Selasa, 10 Desember 2013

PUTUS

Hari ini aku memaksamu untuk ikut bersamaku. Aku hanya ingin menikmati karnaval yang penuh warna itu bersamamu. Tapi kamu mulai bertingkah aneh di setengah perjalanan. Aku memang sudah menyadarinya sejak lama. Kamu tidak seperti yang dulu lagi. Tapi apa yang harus kulakukan? You’re my only favorite. Dan aku hanya bisa menunduk saat merasakan dirimu sudah ingin menyudahi kebersamaan kita selama ini.
“Jangan putus sekarang, kumohon” Pintaku dalam hati. Tapi, mungkin kamu sudah terlalu lelah terhadapku dan mungkin memang inilah waktunya. Akhirnya, dihadapan banyak orang, ditengah keramaian ini, tanpa perasaan, kamu tega melakukannya.

“Aakh sendalku…” rintihku.